[BeraniCerita # 21] Eep & Entin

“Entin! Kenapa diem aja sih?!”

Entin tersentak dari lamunan. “Eh, ya kenapa, Ep?”

“Pegangin goloknya bentar.”

“Buat apaan sih, Ep?”

“Udah, ntar lu tau sendiri.”

Kepala Eep clingak clinguk. Mengintip dengan teropongnya dari kejauhan dan memastikan penjaga kebun sedang tertidur.

“Aman!”

Eep menarik jantung Pisang dan menggapai-gapai pangkal tandan yang menjulur diatas kepalanya.

“Ntin! Bantuin gue dong, cepetan!”

“Nggak ah! Makan Pisang sesisir aja gue enek Ep, apalagi musti makan ampe setandan gitu.”

“Siapa bilang ini buat lu, Entiiin…! Ini  buat Emak gue yang lagi ngidam.”

“Lah, keterlaluan Emak lu, Ep. Pagi-pagi buta gini nyuruh anaknya nyolong Pisang.”

“Nggak mungkinlah Emak gue kayak gitu, Ntin.”

“Trus, kenapa lu musti pake nyolong? Di tangkep Hansip, baru tau rasa lu, Ep.”

“Lu nggak usah khawatir, kalo ketauan gue bakal tanggung jawab.” Eep menghentikan kegiatannya dan menatap Entin. “Lu setia kawan kan?”

“Iya, iyaaaa …”

“Ya udah, cepetan bantuin!”

***

“Mak, Pisangnya udah dapet.”

“Loh, duitnya kan belom Emak kasih, Ep?”

“Setandannya 75 ribu perak, Mak. Tadi pinjem duitnya Entin dulu, buat bayar nih Pisang.”

Emak Eep mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dalam ponjen yang terselip di bawah bantal. “Nih, Emak tambahin 25 ribu perak. Buat ganti ongkos.”

“Makasih ya Mak, Pisangnya udah Eep gantung di dapur.”

Eep langsung berlari menuju halaman belakang. Bergegas menemui Entin yang sedari tadi ngaso di pinggir empang, di sebelah kandang Bebek.

“Nih, buat lu Ntin. Buat beli baju sekolah.”

“Tapi Ep …” Entin menghela nafas lalu terdiam.

“Udah Ntin, terima aja.”

“Kalo Babe nanya darimana gue dapet duit buat beli baju itu, gimana? Gue takut Ep, Babe gue galak.”

“Bilang aja dari sekolah, udah sepaket sama uang pendaftaran. Jadi lu nggak perlu lagi make baju bekas Mpok lu yang udah kuning dan tipis itu. Kalo Emak gue pengen kolak pisang lagi, ntar lu kan bisa beli rok baru yang lebih gedean dikit. “

“Beneran nih Ep?”

“Mumpung Emak gue lagi ngidam, Ntin. Gue tau sebenernya cara kita salah. Tapi gimana lagi ngadepin Babe lu itu. Punya kebon Pisang tapi pelitnya minta ampun. Masak anaknya mo masuk SMA, cuma dikasih uang pendaftaran aja, nggak mau ngasih duit buat beli baju seragam. Mentang-mentang udah sukses, jadi Juragan Pisang tanpa sekolah.”

Iklan

Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela

credit: dokumentasi pribadi Hana Sugiharti

“Nggak mau! Ini punya Rara!”

Adit menarik sendok dan nasi bungkus yang ada di pelukan Rara.

“Adiiiiiiit, kembaliin!”

“Ini punyaku! Wek!” Adit menjunjung tinggi bungkusan itu, tapi tiba-tiba Rara menyundul punggungnya dari belakang, hingga mereka berdua terjatuh dan bergulat di lantai.

Marni panik dan tergopoh-gopoh keluar dari dapur, lalu segera melerai kedua anaknya yang lincahnya naujubillah. Dia mengambil paksa nasi bungkus yang ada di tangan Adit dan meletakannya di tangan Rara.

“Kalian ini apa-apaan sih! Kan udah punya satu-satu, kenapa masih rebutan?!”

“Tapi Adit kan masih laper Bu..”

Secepat kilat Adit merampas nasi bungkus yang dipegang Rara, hingga terjadilah adegan tarik menarik, tapi akhirnya “Brak!” bungkusnya robek dan karetnya putus. Semua isinya berhamburan keluar.

Marni, mengelus dada. “Heran nih anak dua! Badan udah kayak Gajah Way Kambas, tapi kelakuan kayak orang yang nggak makan tiga hari. Kalian liat tuh si Hana. Nggak banyak tingkah, pendiam, penurut lagi. Kalo kelakuan kalian kayak gini terus, Ibu nggak mau ngasih makan kalian lagi! Emangnya nyari uang itu gampang?”

“Yah, jangan Buuu…” Rara dan Adit mengumpulkan remahan nasi yang berserakan serta 2 potong paha ayam yang terpental sampai ke kolong meja.

“Nih, kalian makan punya Ibu aja. Nasi yang itu buang aja, udah kotor gitu ntar kalian malah sakit perut lagi.”

Hana diam saja, dia memilih untuk melihat ke luar jendela. Matanya menatap halaman luas yang membentang di depan matanya. Anak-anak tertawa riang bermain di taman. Ada yang sedang berlarian dan ada yang sedang makan bersama. Hana tertunduk.

Marni ke dapur lalu kembali dengan sepiring gorengan. “Hana, yok sini makan dulu. Ni ada Pisang Molen kesukaanmu.”

“Iya Bu.” Hana mencubit Pisang Molen yang diletakkan Marni dalam sebuah piring plastik. Kemudian dimakannya sampai habis. Sesekali diteguknya air putih yang tergeletak di sudut jendela.

Setelah kenyang. Hana kemudian duduk bersandar di sisi jendela, beristirahat dan berusaha memejamkan mata.

“Hana. Sebelum kamu tidur, jangan lupa cuci piring dan beres-beres ya.” Seru Marni.

“Iya, Bu.”

“Oh ya, kamu kan udah makan Pisang Molen. Jadi jatah nasi bungkusmu buat Ibu yah?”

Hana mengangguk.

“Besok-besok, kamu harus bisa dapetin uang kayak gini lagi pokoknya, yah? Kalo udah terkumpul, Ibu bisa beliin kamu baju lebaran. Kamu mau kan?”

Hana mengangguk lagi. “Boleh nggak besok Hana makan nasi bungkus kayak yang tadi sama beli sandal baru, Bu? Tadi siang, pas Hana dikejar-kejar petugas Kamtib, sandal Hana nyangkut di got dan hanyut di selokan. Trus Hana nangis di bawah jembatan tempat biasa Hana duduk, eh ternyata malah tambah banyak yang ngasih duit, Bu.”

“Bagus, pinter kamu Na! Marni tertawa senang. “Kalo kamu bisa dapet dua kali lipat dari jumlah hari ini, nanti nasi dan sandalnya Ibu pertimbangkanlah pokoknya. Yang jelas, besok kamu praktekin lagi nangis kayak tadi siang yah! Kalo kamu nggak bawa uang, Ibu nggak jamin kamu besok-besok bisa numpang disini lagi. Inget itu ya!

Remake Quiz Monday FlashFiction Prompt # 2 : Pandiman

Bangunan tinggi menjulang di langit hitam. Spiderman merayap. Menebar jaring dari satu titik gedung ke gedung lainnya. Bergelantungan lalu melambung semakin tinggi dan berakhir di puncak menara. Sendiri, menjauh dari hiruk pikuk dunia.

“Cletek!” Gambar TV berubah gelap. “Tidur sana! Kecil-kecil suka begadang, mau jadi apa kamu!”

“Inghya Fha’k…” Pandi masih berusaha menjawab perintah bapaknya, meski dia kesulitan bicara karena ada kelainan pada bibir atasnya.

“Ngapain aja kamu di rumah Bu!” Bapak Pandi mulai berteriak.

“Prangg!!!”

Ibu Pandi tergopoh-gopoh dari dapur, dan melihat kaca TV sudah berhamburan.

“Masya Allah! TV itu dibeli pake duit Pak! Bukan pake daun.”

“Anak cuma satu, tapi ngurusnya nggak becus!”

“Loh, Bapak itu yang seharusnya ngaca! Kerjanya keluyuran aja. Bukannya nyari duit, malah mabok-mabokan. Selama ini, kita makan dari mana kalo aku nggak bikin kue?!”

Hujan lebat dan suara halilintar terus bersahutan dengan suara Orangtuanya yang saling memaki. Untuk kesekian kali Pandi mencoba menutup telinga dengan tangan, bantal atau apapun yang bisa membuatnya tidak mendengar suara-suara itu. Tapi percuma.

Hingga akhirnya Pandi tak tahan lagi. Dia membuka lemari. Dikenakannya baju kesayangannya, lalu berjinjit lewat pintu belakang. Pandi berlari sejauh mungkin. Meski tubuh kecilnya hampir tak mampu lagi menahan dingin tapi kakinya terus melangkah, pasti.. 

***

Sekilas Info.

“Seorang anak laki-laki yang diperkirakan berusia 7 tahun, ditemukan tewas pagi ini. Tanda-tanda fisik yang masih bisa dikenali adalah bibir sumbing. Banyak bekas luka dan memar akibat pukulan benda tumpul di sekujur tubuhnya, belum diketahui penyebabnya. Dilihat dari sisa pakaian yang tidak hangus, diketahui korban memakai baju dan celana berwarna merah dan biru bergambar jaring laba-laba. Diduga korban tewas akibat terjatuh dari puncak menara karena tersambar petir.”

QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 :  Sekilas Sekitarmu

 

Note :
# Inghya Fha’k.. : Iya Pak..

Prompt # 15 : In The End

“Kenapa tas ini bisa disini?”

Ginarah menarik tas kerja Galuh yang terselip di belakang lemari gudang. Dibukanya tas itu kemudian satu persatu dia keluarkan isinya. Tiba-tiba tangan Ginarah menyentuh sebongkah kertas yang sudah remuk teremat.

“Apa ini?”

Kertas itu dibukanya, lalu dirapikan dan diarahkannya di bawah cahaya yang menerobos masuk dari jendela.

Ginarah bergegas ke kamar dan menyodorkan kertas yang baru saja dibacanya. “Benarkah semua ini Mas?!”

Galuh terhenyak dengan kepala tertunduk. Dia tak kuasa menatap mata istrinya. “Iya Rah.. Kata dokter, waktuku tinggal beberapa bulan lagi..”

“Darimana kamu dapatkan penyakit kotor itu Mas?!”

Galuh terdiam.

“Maafkan aku Rah..” Suara Galuh bergetar. “Beberapa tahun lalu, aku pernah berhubungan dengan wanita lain..”

“Segampang itu kamu bilang maaf!”

“Aku khilaf Rah..”

Dengan linangan air mata, Ginarah mengguncang-guncang tubuh Galuh yang sudah sangat lemah. “Sejak kapan?! Sejak kapan kamu mengetahui penyakit ini?!”

“Aku baru tau sebulan yang lalu sejak penyakitku semakin parah..”

Ginarah terduduk lemas. “Kamu telah menghancurkanku dan masa depan kita..”

“Ampuni aku Rah..”

“Percuma meminta ampun padaku Mas..”

Galuh menegakkan punggungnya dan pelan-pelan menurunkan kakinya dari ranjang, tubuhnya langsung terhenyak ke lantai dan bersimpuh dihadapan Ginarah. “Jangan pergi Rah, aku mohon dengan sangat! Jangan pergi!” Tangis Galuh pecah.

Ginarah menangis tergugu sambil mengusap perutnya yang telah berusia sembilan bulan.

“Entahlah..”

***

Kerinduan Ginarah semakin membuncah saat memandang foto terakhir suaminya. Meski dia sudah merawat Galuh dengan kemampuan terbaiknya, tapi dia sadar cepat atau lambat virus itu akan mengambil nyawa suaminya.

Di dalam rumah kontrakannya, Ginarah mencoba bertahan menghadapi penyakit yang telah ditularkan suaminya, sendirian. Tubuhnya semakin kurus dengan demam yang tak kunjung reda, dan entah berapa kali Ginarah harus bolak balik ke kamar mandi.

“Ini Ibu nak, Ibu disini.. Kamu lapar nak?” Ginarah mendekap bayi berusia 6 bulan yang sedari tadi menangis karena tak kunjung mendapatkan pelukan hangat dari ibunya.

Disuapkannya bersendok-sendok cairan bening itu ke mulut anaknya. Hingga bayinya pelan-pelan berhenti menangis dan matanya mulai terpejam.

Dipandanginya dengan lembut hasil buah cintanya dengan Galuh. Airmatanya mengalir deras.

Sedetik kemudian, ditenggaknya sisa cairan bening yang berasal dari kaleng bergambar serangga itu sampai habis.

A tribute to Freddie Mercury

Quiz Monday FlashFiction Prompt # 3: Dinda Si Pelukis Senja

Aku duduk di bibir trotoar. Sayup-sayup terdengar lagu favoritku. Aku tersenyum, suara itu telah menyihirku menjadi fans berat Satria sejak enam bulan lalu. Kepiawaiannya menyanyi tak kalah hebat dari artis-artis Jakarta. Meski Satria penyanyi cafe, tapi dia masih setia bersama teman-teman lamanya.

Dia tersenyum padaku. Tangannya mengacungkan bekas gelas air mineral, yang sudah terisi beberapa lembar uang ribuan.

Kubalas senyumnya. “Oke! Diem disitu ya?!”

Kuambil kertas gambarku, kugores sketsa dirinya dalam siluet senja dibawah lampu merah. Dan suara gitarnya perlahan mengalun, mengiringi jemariku mengukir potret kisah dirinya.

Hari-hari selanjutnya, tak kulihat lagi Satria disana. Dia pernah berkata akan pergi untuk beberapa waktu. Tapi entah kenapa, aku mulai merindunya.

Hingga suatu hari, kulihat wajahnya terpampang di selebaran. Seminggu sekali kudatangi apotek di dekat trotoar. Tak pernah kulewatkan sekalipun tanpa menonton Satria. Juga mendukungnya lewat berpuluh-puluh sms.

Mungkin sekardus nomor yang kubeli, telah menambah perolehan voting Satria. Tapi aku yakin, kemenangannya menjadi juara pertama dalam final ajang pencarian bakat malam ini, adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

“Lagu Kupu-Kupu Malam ini, adalah lagu kesukaan Dinda Si Pelukis Senja. Satria sejenak terdiam. “Apa kabarmu sekarang?”

Aku trenyuh, terpaku di depan layar kaca.

“Kabarku tetap sama, dengan Pekerjaan yang masih sama dengan lagu yang kau nyanyikan..

Yuk, ikutan QUIZ MONDAY FLASHFICTION #3 – On The Street

Prompt # 12 : Berawal dari Konde

Aku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul. 

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini?

Keningku mengernyit, ketika menyadari konde itu ternyata berada diantara kumpulan barang-barang Mas Pram. Dengan perasaan geli, kumasukkan konde itu ke tempatnya semula.

“Ngapain sih, nyimpen-nyimpen konde segala? Kayak kurang kerjaan aja.”

“Oh, itu. Itu kenang-kenangan dari Ibu, Kin.”

“Kenapa harus konde sih? Apa udah gak ada lagi yang lain, yang bisa dijadiin kenang-kenangan?” Gerutuku.

“Soalnya, Ibu dulu pernah jadi tukang rias pengantin Kin. Jadi perlengkapannya yang paling berharga, masih Mas simpen sampai sekarang.”

Kumasukkan barang yang masih berguna ke dalam kardus, lalu dipak bersama barang-barang lain. Minggu depan Mas Pram akan meninggalkan rumah almarhumah ibunya dan tinggal bersamaku. Membangun mahligai baru dalam sebuah pernikahan. Meski kami dijodohkan, tapi akhirnya kami setuju untuk membina keluarga.

Kubersihkan debu-debu yang menempel di rak paling atas. Lalu, brak! Sebuah album foto tua hampir terjatuh, dan foto-foto didalamnya meluncur begitu saja ke lantai. Kurapikan kembali lembaran-lembarannya. Kulihat foto seorang gadis muda berkebaya dan memakai konde, manis sekali.

“Siapa sih ini mas?”

“Ah, eh, itu… Tanteku Kin.”

“Yang bener… Tante ato Mantan?”

“Loh, kok nanya nya gitu Kin?”

“Iyalah, kan udah jelas-jelas foto ini keliatan gak lama-lama amat, setidaknya kan Kinar masih bisa ngebedain mana foto yang tahun 70-an dan mana yang tahun 90-an.”

“Iyah deh, mas ngaku. Itu foto mas waktu SMA.”

“Hah!” Kutatap foto itu lekat-lekat. “Astaga, Iya yah. Pantesan kayak pernah liat.”

“Dulu, sewaktu ibu masih hidup, beliau pengen banget punya anak perempuan. Tapi, setelah Mas tau hidup Ibu gak bakal lama lagi, jadi Mas bikin aja foto kayak gitu. Yah, sekedar untuk menghibur dan menyenangkan hatinya.”

Aku mengangguk paham. Kupandangi foto itu lagi. “Mas cocok banget pake konde itu, cantik.”

Mas Pram tersenyum. “Barang-barangnya Mas angkut ke mobil yah.”

***

Tit tut. Handphone Mas Pram tertinggal. Kulihat tulisan new multimedia message muncul di layar handphonenya.

Di tunggu di tempat biasa yah, mmuah!

foto ini bikin aku kangen terus..

Nafasku naik turun, amarahku hampir memuncak. Tanganku meremat dan melempar handphone berisi foto mas Pram yang sedang berasyik masygul dengan seorang laki-laki di depan cermin tanpa sehelai benang pun.

“Ternyata laki-laki itu emang nggak ada yang setia. Semuanya pembohong!”

Airmataku tumpah. Menyesal, telah meninggalkan Shinta demi Mas Pram.

 

Prompt # 10 : Shioban dan Kereta Kuda

KERETA KUDA 2

Sebuah kereta kuda bercahaya, terpendar merah turun dari langit malam lalu mendarat pelan di depan sebuah istal. Tiba-tiba, cahayanya berubah putih hingga menerangi separuh hutan Fujimori. Shioban yang sedang melangkah gontai setelah berhari-hari tak menemukan obat yang dicarinya, terkesiap.

“Itu dia!”

Shioban berlari secepat mungkin ke arah kereta kudanya yang sempat hilang secara misterius beberapa hari yang lalu.

Cahaya itu tiba-tiba lenyap. “Dimana kereta kuda itu?!” Shioban kehabisan tenaga dan putus asa. Lalu dia terjatuh karena kelelahan.

***

Shioban bangkit. Dia teringat pesan dari nenek peramal di desanya, untuk segera mendapatkan Daun Mori yang ada di Kerajaan Fujimori, agar bisa menyembuhkan anaknya yang hampir sekarat.

Samar-samar dia mendengar suara ringkikan kuda. “Tempat apa ini?” Cahaya putih menyilaukan mata Shioban.

“Kamu berada di Istal Kerajaan Fujimori!”

Shioban kaget melihat sosok serupa Jin berwarna hitam yang ukurannya hampir setinggi atap.

“Ka.. kamu siapa?!”

“Aku adalah Jin Penjaga tempat ini! Apa yang kamu lakukan disini?!”

Pelan-pelan Shioban mundur ke belakang, mencari kesempatan untuk lari ketika Jin Penjaga itu lengah. Tapi, tiba-tiba punggungnya menabrak sebuah benda yang terbuat dari kayu. Ketika menoleh ke belakang, Shioban terbelalak.

“Aku ingin mengambil kembali benda ini!”

“Kereta kuda hanya untuk para ratu dan penyihir.”

“Memangnya apa yang akan kamu lakukan jika aku menginginkannya?” kata Shioban sambil mendelik ke arah jin penjaga.

“Maaf! Walaupun kamu yang membuatnya, kamu tidak bisa memilikinya!”

“Darimana kamu tau kalau aku yang membuatnya?!

“Aku dulu adalah Jin Penunggu dari Pohon Mori yang kamu pahat hingga menjadi kereta kuda ini! Pohon itu adalah Pohon Keabadian milik salah satu Penyihir di negeri ini. Siapapun manusia yang menebarkan bibitnya akan ikut abadi, tapi jika pohon itu ditebang tanpa menggantinya dengan bibit yang baru, maka manusia yang melakukannya juga pelan-pelan akan mati!”

Jin Penjaga itu tertawa sinis. “Karena anakmu sudah menebangnya, maka dia harus menerima akibatnya!”

Shioban bersimpuh. “Aku mohon ampuni anakku. Dia sama sekali tidak tau apa-apa!”

“Baik! Aku punya satu cara yang bisa menyelamatkan anakmu!”

“Asalkan anakku bisa sembuh kembali, apapun akan kulakukan.”

Jin Penjaga itu menunjuk kereta kuda Shioban. Tiba-tiba, duri-duri dan dedaunan kecil merambat di sekelilingnya.

“Daun Mori yang ada diantara duri beracun itu akan menjadi obatnya. Tapi, daun itu akan berkhasiat hanya jika kamu bisa memetik tanpa menyentuh durinya dan menerima persyaratan dariku!”

“Baiklah.”

“Ambilah daun itu, rebus dan minumkan airnya pada anakmu, dia akan kembali seperti sedia kala.

Shioban bahagia mengetahui anaknya akan sembuh, ternyata semua yang dilakukannya tidak sia-sia.

***

“Demi bumi ini, tanamlah kembali apa yang sudah kamu ambil Nak.. Semoga kamu bahagia dan sehat selalu…”

Ichiban tak kuasa menahan tangis, setelah membaca surat terakhir ayahnya.

Quiz Monday FlashFiction Prompt # 2 : Pandiman

Bangunan tinggi menjulang di langit hitam. Spiderman merayap. Menebar jaring dari satu titik gedung ke gedung lainnya. Bergelantungan lalu melambung semakin tinggi dan berakhir di puncak menara. Sendiri, menjauh dari hiruk pikuk dunia.

“Cletek!” Gambar TV berubah gelap. “Tidur sana! Kecil-kecil suka begadang, mau jadi apa kamu!”

“Inghya Fha’k…” Pandi masih berusaha menjawab perintah bapaknya, meski dia kesulitan bicara karena ada kelainan di bibir atasnya.

“Ngapain aja kamu di rumah Bu!” Bapak Pandi mulai berteriak.

“Prangg!!!”

Ibu Pandi tergopoh-gopoh dari dapur, dan melihat kaca TV sudah berhamburan.

“Masya Allah! TV itu dibeli pake duit Pak! Bukan pake daun.”

“Anak cuma satu, tapi ngurusnya nggak becus!”

“Loh, Bapak itu yang seharusnya ngaca! Kerjanya keluyuran aja. Bukannya nyari duit, malah mabok-mabokan. Selama ini, kita makan dari mana kalo aku nggak bikin kue?!”

Hujan lebat dan suara halilintar terus bersahutan dengan suara Orangtuanya yang saling memaki. Untuk kesekian kali Pandi mencoba menutup telinga dengan tangan, bantal atau apapun yang bisa membuatnya tidak mendengar suara-suara itu. Tapi percuma.

Hingga akhirnya Pandi tak tahan lagi. Dia membuka lemari. Dikenakannya baju kesayangannya, lalu berjinjit lewat pintu belakang. Pandi berlari sejauh mungkin. Meski tubuh kecilnya hampir tak mampu lagi menahan dingin tapi kakinya terus melangkah, pasti.. 

***

Sekilas Info.

“Seorang anak laki-laki yang diperkirakan berusia 7 tahun, ditemukan tewas pagi ini. Tanda-tanda fisik yang masih bisa dikenali adalah bibir sumbing. Banyak bekas luka dan memar akibat pukulan benda tumpul di sekujur tubuhnya, belum diketahui penyebabnya. Dilihat dari sisa pakaian yang tidak hangus, diketahui korban memakai baju dan celana berwarna merah dan biru bergambar jaring laba-laba. Diduga korban tewas akibat terjatuh dari puncak menara karena tersambar petir.”

QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 :  Sekilas Sekitarmu

 

Note :
# Inghya Fha’k.. : Iya Pak..

Berani Cerita # 07 : Si Pendiam yang Aneh

“Will you Marry Me?” Pintanya.

Kupandangi wajahnya lekat-lekat. Sudut mata tajam dan hidung runcing menghiasi wajahnya yang putih. Ketampananannya tak membias, di usianya yang menginjak paruh baya.

Akhirnya kuterima lamarannya. Walau dengan berat hati, tapi aku yakin dia akan memberi apa pun yang kuminta.

Hari-hari kujalani bersamanya. Jangankan menjamahku, bicaranya pun hanya sedikit dengan kata-kata yang kadang tak kumengerti. Ketika kuhidangkan makanan, dia mencoleknya lalu menggeleng dan berkata “Sorry.” kemudian membungkuk dan pergi begitu saja. Tapi, dia selalu memperhatikan semua kebutuhan dan merawatku ketika sakit, hingga cinta itu pelan-pelan menghampiriku dan ikut mencairkan gelora nafsunya yang beku.

Lalu si kecil hadir, dia masih jarang bicara dan tetap dingin. Tak pernah sekalipun dia bermain atau mengajak anaknya berjalan-jalan, waktunya di rumah selalu dihabiskan di ruang kerja. Dia hanya tersenyum ketika berpas-pasan dengan si kecil, itu saja. Tak ada niat untuk memeluk dan menggendong atau sekedar menciumnya.

***

Masa kerja suamiku berakhir, pernikahan kami yang sudah berusia tiga tahun ikut berakhir. Meski aku memohon, dia tetap memilih untuk pulang ke kampung halamannya.

“Terima kasih banyak atas bantuan dan pengertiannya selama ini, Dina san.” Suaranya terbata lalu membungkuk agak lama, “Gomen na…” Hanya itu ucapan terakhirnya.

Aku nelangsa.

Cintaku dikalahkan oleh selembar Perjanjian Nikah Kontrak dan anakku kehilangan Ayahnya.

banner-BC#07

Note :

# Dina san : Nona Dina.

# Gomen na :  Maaf.

Prompt #9: Parfum Mahal

botol parfum

Grafik data perusahaan itu diletakkannya di atas meja. “Kita bangkrut-sebangkrutnya, Mi,” Roland menghela nafas kemudian melonggarkan dasinya.

“Yang bener, Pi?!” Laras tercengang dan kelihatan sangat kecewa. Dahinya berkerut dan berkeringat dingin. “Gimana ini ya, Pi.. Mami kan pengen ikut arisan yang 20 juta perbulan bersama ibu-ibu pejabat itu.”

“Kan bisa dibatalin, Mi, Kondisi kita udah gak memungkinkan lagi untuk hal seperti itu!”

“Nggak ah, Pi! Tengsin dong, Mami!”

“Trus, mau nyari uang 20 juta perbulan itu ke mana? Rumah kita yang di BSD aja udah disita!”

“Mami buka bisnis parfum aja deh, Pi. Kalo sering bergaul sama istri pejabat, pangsa pasarnya kan lumayan.”

“Ya udah. Kalo Mami punya modal sendiri, Papi sih nurut aja.”

***

“Hei Jeng, kemana aja, udah lama nggak keliatan?”

“Eh Jeng Anna, nggak ke mana-mana kok cuma lagi ngurus bisnis baru aja.”

“Bisnis apa Jeng? Suami udah kaya kok istrinya masih kerja aja toh…”

“Alah Jeng, daripada shopping melulu ngabisin uang suami, mending uangnya dijadiin modal bisnis, kan hasilnya malah jadi berkali lipat,” Laras tersenyum miris, berharap teman-temannya yang hadir di acara arisan itu tidak ada yang tahu tentang kebangkrutan suaminya.

“Jeng-Jeng sekalian, ada barang limited edition dari luar negeri nih! Baru saya pake sekali, lho!” seru Laras.

“Barang apa, Jeng? Oh, parfum yah!”

“Iya nih Jeng, ada 3 buah, dari Paris. The Lalique, Clive Christian’s sama Caron’s Poivre dan semuanya bersertifikat. Saya ini kan orangnya bosenan, jadi kalo ada yang baru pasti yang lama terlupakan. Sayang kan, mending buat kalian-kalian aja.”

“Aduh Jeng, ada The Lalique yah! Ini kan parfum yang dipake Si Jelo itu. Waktu itu saya nyari tapi udah nggak ada lagi,” ucap Jeng Anna.

“Eh tau nggak Jeng, saya dengar harganya itu 25 juta loh,” ujar temannya menimpali.

“Nggak pa-pa lah Jeng, sekali-sekali ini. Kapan lagi bisa dapet parfum mewah dengan harga miring. Mas Adam dijamin bakalan lengket terus deh sama Jeng Anna. Kalo mau, ntar saya kasih diskon 15 persen khusus buat Jeng Anna,” bujuk Laras. “Gimana, mau yah? Ntar kalo yang lain berminat langsung tak lepas loh…”

Jeng Anna mengamati botol cantik yang terbuat dari kristal lalique itu dengan seksama, beberapa biji permata berwarna bening, tertanam di badan botol. Dia membuka tutupnya dan mengendus aroma yang melekat, lalu menyemprotkan sedikit ke pergelangan tangan.

“Unik, yah! Aromanya juga eksotis,” ujarnya. “Hmm.. Baiklah, ntar saya transfer uangnya setelah pulang dari sini yah.”

“Kalo punya suami konglomerat, uang segitu mah pasti nggak seberapa. Ya nggak, Jeng Anna?”

“Ah, Jeng Laras tau aja.”

Laras tersenyum puas.

“Besok aku harus nyetok pengharum ruangan dan menambahkan pelicin pakaian lebih banyak lagi. Sepertinya, masih ada botol parfum kosong di rumah.”

botol

Note : Lampu Bohlam # 06 : Harga Diri