Berani Cerita # 07 : Si Pendiam yang Aneh

“Will you Marry Me?” Pintanya.

Kupandangi wajahnya lekat-lekat. Sudut mata tajam dan hidung runcing menghiasi wajahnya yang putih. Ketampananannya tak membias, di usianya yang menginjak paruh baya.

Akhirnya kuterima lamarannya. Walau dengan berat hati, tapi aku yakin dia akan memberi apa pun yang kuminta.

Hari-hari kujalani bersamanya. Jangankan menjamahku, bicaranya pun hanya sedikit dengan kata-kata yang kadang tak kumengerti. Ketika kuhidangkan makanan, dia mencoleknya lalu menggeleng dan berkata “Sorry.” kemudian membungkuk dan pergi begitu saja. Tapi, dia selalu memperhatikan semua kebutuhan dan merawatku ketika sakit, hingga cinta itu pelan-pelan menghampiriku dan ikut mencairkan gelora nafsunya yang beku.

Lalu si kecil hadir, dia masih jarang bicara dan tetap dingin. Tak pernah sekalipun dia bermain atau mengajak anaknya berjalan-jalan, waktunya di rumah selalu dihabiskan di ruang kerja. Dia hanya tersenyum ketika berpas-pasan dengan si kecil, itu saja. Tak ada niat untuk memeluk dan menggendong atau sekedar menciumnya.

***

Masa kerja suamiku berakhir, pernikahan kami yang sudah berusia tiga tahun ikut berakhir. Meski aku memohon, dia tetap memilih untuk pulang ke kampung halamannya.

“Terima kasih banyak atas bantuan dan pengertiannya selama ini, Dina san.” Suaranya terbata lalu membungkuk agak lama, “Gomen na…” Hanya itu ucapan terakhirnya.

Aku nelangsa.

Cintaku dikalahkan oleh selembar Perjanjian Nikah Kontrak dan anakku kehilangan Ayahnya.

banner-BC#07

Note :

# Dina san : Nona Dina.

# Gomen na :  Maaf.

17 pemikiran pada “Berani Cerita # 07 : Si Pendiam yang Aneh

    • oh, biasanya alasannya selain mucikari, Lelaki (WNA) itu butuh istri nya (WNI) untuk jaminan memperpanjang visa kunjungannya di Indonesia mbak, sebagai penjamin biar gak di deportasi dan dia gak kehilangan pekerjaannya 😀

      Biasanya ada Surat Sponsor, yang menyatakan bahwa Istri (WNI) sebagai pemegang KITAS yang mengundang WNA (Suami) utk tinggal di Indonesia mbak 😀

  1. Eh bagus ide ceritanyaa.. Dikiitt koreksi mbak
    Ku pandangi- kupandangi
    Sudut matanya yang tajam dan hidung runcingnya di wajah yang putih. — err menurutku dikit gak pas..
    Menurutku : Sudut mata tajam dan hidung runcing menghiasi wajahnya yang putih mulus.

    ^.^ emang lagi marak kawin kontrak ya sekarang..huhuhu

  2. Bagus nih ceritanya, twist!
    Perlu dipadetin dikit karena ada beberapa bagian yang gak perlu. Kayak kalimat ini:
    Ternyata uang yang kudapat dari suamiku, tak bisa menyelamatkan adikku Dira dari tumor yang bersarang di ususnya.
    Sebenarnya ini gak ada porsi penting dalam cerita 🙂
    Keep writing yah! Makasih udah ikutan beranicerita!

Mo Komen? dipersilahkan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s