Quiz Monday FlashFiction Prompt # 3: Dinda Si Pelukis Senja

Aku duduk di bibir trotoar. Sayup-sayup terdengar lagu favoritku. Aku tersenyum, suara itu telah menyihirku menjadi fans berat Satria sejak enam bulan lalu. Kepiawaiannya menyanyi tak kalah hebat dari artis-artis Jakarta. Meski Satria penyanyi cafe, tapi dia masih setia bersama teman-teman lamanya.

Dia tersenyum padaku. Tangannya mengacungkan bekas gelas air mineral, yang sudah terisi beberapa lembar uang ribuan.

Kubalas senyumnya. “Oke! Diem disitu ya?!”

Kuambil kertas gambarku, kugores sketsa dirinya dalam siluet senja dibawah lampu merah. Dan suara gitarnya perlahan mengalun, mengiringi jemariku mengukir potret kisah dirinya.

Hari-hari selanjutnya, tak kulihat lagi Satria disana. Dia pernah berkata akan pergi untuk beberapa waktu. Tapi entah kenapa, aku mulai merindunya.

Hingga suatu hari, kulihat wajahnya terpampang di selebaran. Seminggu sekali kudatangi apotek di dekat trotoar. Tak pernah kulewatkan sekalipun tanpa menonton Satria. Juga mendukungnya lewat berpuluh-puluh sms.

Mungkin sekardus nomor yang kubeli, telah menambah perolehan voting Satria. Tapi aku yakin, kemenangannya menjadi juara pertama dalam final ajang pencarian bakat malam ini, adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

“Lagu Kupu-Kupu Malam ini, adalah lagu kesukaan Dinda Si Pelukis Senja. Satria sejenak terdiam. “Apa kabarmu sekarang?”

Aku trenyuh, terpaku di depan layar kaca.

“Kabarku tetap sama, dengan Pekerjaan yang masih sama dengan lagu yang kau nyanyikan..

Yuk, ikutan QUIZ MONDAY FLASHFICTION #3 – On The Street

Prompt # 12 : Berawal dari Konde

Aku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul. 

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini?

Keningku mengernyit, ketika menyadari konde itu ternyata berada diantara kumpulan barang-barang Mas Pram. Dengan perasaan geli, kumasukkan konde itu ke tempatnya semula.

“Ngapain sih, nyimpen-nyimpen konde segala? Kayak kurang kerjaan aja.”

“Oh, itu. Itu kenang-kenangan dari Ibu, Kin.”

“Kenapa harus konde sih? Apa udah gak ada lagi yang lain, yang bisa dijadiin kenang-kenangan?” Gerutuku.

“Soalnya, Ibu dulu pernah jadi tukang rias pengantin Kin. Jadi perlengkapannya yang paling berharga, masih Mas simpen sampai sekarang.”

Kumasukkan barang yang masih berguna ke dalam kardus, lalu dipak bersama barang-barang lain. Minggu depan Mas Pram akan meninggalkan rumah almarhumah ibunya dan tinggal bersamaku. Membangun mahligai baru dalam sebuah pernikahan. Meski kami dijodohkan, tapi akhirnya kami setuju untuk membina keluarga.

Kubersihkan debu-debu yang menempel di rak paling atas. Lalu, brak! Sebuah album foto tua hampir terjatuh, dan foto-foto didalamnya meluncur begitu saja ke lantai. Kurapikan kembali lembaran-lembarannya. Kulihat foto seorang gadis muda berkebaya dan memakai konde, manis sekali.

“Siapa sih ini mas?”

“Ah, eh, itu… Tanteku Kin.”

“Yang bener… Tante ato Mantan?”

“Loh, kok nanya nya gitu Kin?”

“Iyalah, kan udah jelas-jelas foto ini keliatan gak lama-lama amat, setidaknya kan Kinar masih bisa ngebedain mana foto yang tahun 70-an dan mana yang tahun 90-an.”

“Iyah deh, mas ngaku. Itu foto mas waktu SMA.”

“Hah!” Kutatap foto itu lekat-lekat. “Astaga, Iya yah. Pantesan kayak pernah liat.”

“Dulu, sewaktu ibu masih hidup, beliau pengen banget punya anak perempuan. Tapi, setelah Mas tau hidup Ibu gak bakal lama lagi, jadi Mas bikin aja foto kayak gitu. Yah, sekedar untuk menghibur dan menyenangkan hatinya.”

Aku mengangguk paham. Kupandangi foto itu lagi. “Mas cocok banget pake konde itu, cantik.”

Mas Pram tersenyum. “Barang-barangnya Mas angkut ke mobil yah.”

***

Tit tut. Handphone Mas Pram tertinggal. Kulihat tulisan new multimedia message muncul di layar handphonenya.

Di tunggu di tempat biasa yah, mmuah!

foto ini bikin aku kangen terus..

Nafasku naik turun, amarahku hampir memuncak. Tanganku meremat dan melempar handphone berisi foto mas Pram yang sedang berasyik masygul dengan seorang laki-laki di depan cermin tanpa sehelai benang pun.

“Ternyata laki-laki itu emang nggak ada yang setia. Semuanya pembohong!”

Airmataku tumpah. Menyesal, telah meninggalkan Shinta demi Mas Pram.