Prompt # 15 : In The End

“Kenapa tas ini bisa disini?”

Ginarah menarik tas kerja Galuh yang terselip di belakang lemari gudang. Dibukanya tas itu kemudian satu persatu dia keluarkan isinya. Tiba-tiba tangan Ginarah menyentuh sebongkah kertas yang sudah remuk teremat.

“Apa ini?”

Kertas itu dibukanya, lalu dirapikan dan diarahkannya di bawah cahaya yang menerobos masuk dari jendela.

Ginarah bergegas ke kamar dan menyodorkan kertas yang baru saja dibacanya. “Benarkah semua ini Mas?!”

Galuh terhenyak dengan kepala tertunduk. Dia tak kuasa menatap mata istrinya. “Iya Rah.. Kata dokter, waktuku tinggal beberapa bulan lagi..”

“Darimana kamu dapatkan penyakit kotor itu Mas?!”

Galuh terdiam.

“Maafkan aku Rah..” Suara Galuh bergetar. “Beberapa tahun lalu, aku pernah berhubungan dengan wanita lain..”

“Segampang itu kamu bilang maaf!”

“Aku khilaf Rah..”

Dengan linangan air mata, Ginarah mengguncang-guncang tubuh Galuh yang sudah sangat lemah. “Sejak kapan?! Sejak kapan kamu mengetahui penyakit ini?!”

“Aku baru tau sebulan yang lalu sejak penyakitku semakin parah..”

Ginarah terduduk lemas. “Kamu telah menghancurkanku dan masa depan kita..”

“Ampuni aku Rah..”

“Percuma meminta ampun padaku Mas..”

Galuh menegakkan punggungnya dan pelan-pelan menurunkan kakinya dari ranjang, tubuhnya langsung terhenyak ke lantai dan bersimpuh dihadapan Ginarah. “Jangan pergi Rah, aku mohon dengan sangat! Jangan pergi!” Tangis Galuh pecah.

Ginarah menangis tergugu sambil mengusap perutnya yang telah berusia sembilan bulan.

“Entahlah..”

***

Kerinduan Ginarah semakin membuncah saat memandang foto terakhir suaminya. Meski dia sudah merawat Galuh dengan kemampuan terbaiknya, tapi dia sadar cepat atau lambat virus itu akan mengambil nyawa suaminya.

Di dalam rumah kontrakannya, Ginarah mencoba bertahan menghadapi penyakit yang telah ditularkan suaminya, sendirian. Tubuhnya semakin kurus dengan demam yang tak kunjung reda, dan entah berapa kali Ginarah harus bolak balik ke kamar mandi.

“Ini Ibu nak, Ibu disini.. Kamu lapar nak?” Ginarah mendekap bayi berusia 6 bulan yang sedari tadi menangis karena tak kunjung mendapatkan pelukan hangat dari ibunya.

Disuapkannya bersendok-sendok cairan bening itu ke mulut anaknya. Hingga bayinya pelan-pelan berhenti menangis dan matanya mulai terpejam.

Dipandanginya dengan lembut hasil buah cintanya dengan Galuh. Airmatanya mengalir deras.

Sedetik kemudian, ditenggaknya sisa cairan bening yang berasal dari kaleng bergambar serangga itu sampai habis.

A tribute to Freddie Mercury

22 pemikiran pada “Prompt # 15 : In The End

      1. Bukan saya itu Mbak Na wkwkwkwk..

        Mungkin Ginarah ngerasa nggak bakal sembuh, dan anaknya juga ketularan virus itu. Jadi klo dia is death dia ngerasa nggak ada yg bisa ngurus anaknya. IMO 😀

  1. ‘siapa hidup, di peluk ibu. siapa mati, di genggam ibu. siapa, siapa yang kira, ke mana jiwa bergerak? siapa?’

Mo Komen? dipersilahkan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s