[BeraniCerita # 21] Eep & Entin

“Entin! Kenapa diem aja sih?!”

Entin tersentak dari lamunan. “Eh, ya kenapa, Ep?”

“Pegangin goloknya bentar.”

“Buat apaan sih, Ep?”

“Udah, ntar lu tau sendiri.”

Kepala Eep clingak clinguk. Mengintip dengan teropongnya dari kejauhan dan memastikan penjaga kebun sedang tertidur.

“Aman!”

Eep menarik jantung Pisang dan menggapai-gapai pangkal tandan yang menjulur diatas kepalanya.

“Ntin! Bantuin gue dong, cepetan!”

“Nggak ah! Makan Pisang sesisir aja gue enek Ep, apalagi musti makan ampe setandan gitu.”

“Siapa bilang ini buat lu, Entiiin…! Ini  buat Emak gue yang lagi ngidam.”

“Lah, keterlaluan Emak lu, Ep. Pagi-pagi buta gini nyuruh anaknya nyolong Pisang.”

“Nggak mungkinlah Emak gue kayak gitu, Ntin.”

“Trus, kenapa lu musti pake nyolong? Di tangkep Hansip, baru tau rasa lu, Ep.”

“Lu nggak usah khawatir, kalo ketauan gue bakal tanggung jawab.” Eep menghentikan kegiatannya dan menatap Entin. “Lu setia kawan kan?”

“Iya, iyaaaa …”

“Ya udah, cepetan bantuin!”

***

“Mak, Pisangnya udah dapet.”

“Loh, duitnya kan belom Emak kasih, Ep?”

“Setandannya 75 ribu perak, Mak. Tadi pinjem duitnya Entin dulu, buat bayar nih Pisang.”

Emak Eep mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dalam ponjen yang terselip di bawah bantal. “Nih, Emak tambahin 25 ribu perak. Buat ganti ongkos.”

“Makasih ya Mak, Pisangnya udah Eep gantung di dapur.”

Eep langsung berlari menuju halaman belakang. Bergegas menemui Entin yang sedari tadi ngaso di pinggir empang, di sebelah kandang Bebek.

“Nih, buat lu Ntin. Buat beli baju sekolah.”

“Tapi Ep …” Entin menghela nafas lalu terdiam.

“Udah Ntin, terima aja.”

“Kalo Babe nanya darimana gue dapet duit buat beli baju itu, gimana? Gue takut Ep, Babe gue galak.”

“Bilang aja dari sekolah, udah sepaket sama uang pendaftaran. Jadi lu nggak perlu lagi make baju bekas Mpok lu yang udah kuning dan tipis itu. Kalo Emak gue pengen kolak pisang lagi, ntar lu kan bisa beli rok baru yang lebih gedean dikit. “

“Beneran nih Ep?”

“Mumpung Emak gue lagi ngidam, Ntin. Gue tau sebenernya cara kita salah. Tapi gimana lagi ngadepin Babe lu itu. Punya kebon Pisang tapi pelitnya minta ampun. Masak anaknya mo masuk SMA, cuma dikasih uang pendaftaran aja, nggak mau ngasih duit buat beli baju seragam. Mentang-mentang udah sukses, jadi Juragan Pisang tanpa sekolah.”

Berani Cerita # 07 : Si Pendiam yang Aneh

“Will you Marry Me?” Pintanya.

Kupandangi wajahnya lekat-lekat. Sudut mata tajam dan hidung runcing menghiasi wajahnya yang putih. Ketampananannya tak membias, di usianya yang menginjak paruh baya.

Akhirnya kuterima lamarannya. Walau dengan berat hati, tapi aku yakin dia akan memberi apa pun yang kuminta.

Hari-hari kujalani bersamanya. Jangankan menjamahku, bicaranya pun hanya sedikit dengan kata-kata yang kadang tak kumengerti. Ketika kuhidangkan makanan, dia mencoleknya lalu menggeleng dan berkata “Sorry.” kemudian membungkuk dan pergi begitu saja. Tapi, dia selalu memperhatikan semua kebutuhan dan merawatku ketika sakit, hingga cinta itu pelan-pelan menghampiriku dan ikut mencairkan gelora nafsunya yang beku.

Lalu si kecil hadir, dia masih jarang bicara dan tetap dingin. Tak pernah sekalipun dia bermain atau mengajak anaknya berjalan-jalan, waktunya di rumah selalu dihabiskan di ruang kerja. Dia hanya tersenyum ketika berpas-pasan dengan si kecil, itu saja. Tak ada niat untuk memeluk dan menggendong atau sekedar menciumnya.

***

Masa kerja suamiku berakhir, pernikahan kami yang sudah berusia tiga tahun ikut berakhir. Meski aku memohon, dia tetap memilih untuk pulang ke kampung halamannya.

“Terima kasih banyak atas bantuan dan pengertiannya selama ini, Dina san.” Suaranya terbata lalu membungkuk agak lama, “Gomen na…” Hanya itu ucapan terakhirnya.

Aku nelangsa.

Cintaku dikalahkan oleh selembar Perjanjian Nikah Kontrak dan anakku kehilangan Ayahnya.

banner-BC#07

Note :

# Dina san : Nona Dina.

# Gomen na :  Maaf.

Berani Cerita # 06 : Ibu

ibu

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

“Liana! ternyata kamu disini?!”

“Iya! memangnya kenapa?! Ini kan rumah Eyangku, ngapain juga kamu kesini!” begitu melihat yang datang ternyata adik tirinya, Liana langsung menjawab dengan ketus dan bermuka masam.

“Saya ingin menjenguk Eyang, dimana kamarnya?”

“Cari saja sendiri!” Rino langsung nyelonong, clingak clinguk mencari kamar Eyangnya. Dia tak tau mengapa kakak tirinya yang telah menghilang selama lima tahun itu begitu membencinya, padahal Rino dan ibunya sudah menerima Liana apa adanya.

***

“Ini Rino datang Eyang…” Rino mencium tangan Eyangnya, lalu duduk bersandar disamping ranjang. Liana berjalan pelan lalu ikut mencuri dengar dibalik pintu.

“Karena kalian sudah dewasa. Ada yang ingin Eyang beritahukan kepada kalian, Eyang pikir waktu Eyang sudah tidak lama lagi…”

“Eyang sering dengar dari Ayahmu, kalian tidak akur. Terlebih lagi Liana begitu memusuhimu. Eyang mengerti dengan keadaan kalian, tapi ada yang kalian tidak tau.”

Airmatanya perlahan jatuh. “Dulu Ayahmu pernah berselingkuh dan menghamili wanita lain Rino. Tapi wanita itu nekat mengakhiri hidupnya, karena ayahmu meninggalkannya untuk kembali pada Ibumu lagi.” Rino terdiam lalu menyeka air mata Eyangnya.

“Lalu, Ibumu memutuskan untuk menerima dan membesarkan anak selingkuhan ayahmu yang pada saat itu sudah berusia 3 tahun, baru kemudian kamu lahir Rino. Eyang tau, ibumu selalu berusaha ikhlas untuk menerima Liana. Hingga sekalipun dia tidak pernah menceritakan hal itu kepada kalian, sampai akhir hayatnya lima tahun yang lalu.”

Liana terkesiap, terdiam mematung. Lima tahun silam, dia pernah mendengar bahwa Ayahnya tega meninggalkan ibu dan dirinya demi Ibu Rino,  tapi ternyata “Aku..” Suara Liana tercekat. Aku.. Aku ini anak haram!” tangisnya pecah. 

“Masuklah Liana, Eyang tau kamu di luar.” Liana tak berani masuk, wajahnya berurai air mata. Dadanya sesak, dipenuhi rasa berdosa.

“Aku bersalah…” Liana menangis sesunggukkan. “Maafkan aku sudah meracunimu, bu..”

banner-BC#06Note : # 313 Kata

Berani Cerita # 04 Flying without Wings

“Yoto!!” “Kamu sudah bapak peringatkan berkali-kali yah!”
“Ke ruang BP, sekarang!”
“Eh! Ya Pak.”

Di luar kelas, Suyoto berpas-pasan dengan Ibu Yeli. “Ketiduran lagi To?!”
“Iya.” “kok tau Bu?”
“Itu, bekas ilermu masih ada.”
“Kamu ini, gak malu apa sama temen-temenmu?”
“Tampangmu kayak orang nggak pernah mandi, seperti nggak punya semangat hidup saja. Makanya, gak ada yang mau bergaul sama kamu..”
“Sekolah itu pake uang To. Jangan mentang-mentang pinter, lalu bisa seenaknya.. .”

Suyoto yang pendiam hanya bisa mengangguk mendengar omelan wali kelasnya.

***

Prak!! Ratusan batu bata melungsur dari atas gedung.

“Masya Allah!” Suyoto terperangah. “Untung nggak ada orang dibawah.”
“Gimana sih lu To!” “Ngomong dong kalo nggak mau kerja lagi!”
“Maaf Bang, tali pengamannya lepas!” Yoto terpaku. “Ntar potong dari upah ku aja Bang?!”

Ucapan Wali Kelasnya tadi pagi, membuyarkan konsentrasi Suyoto malam ini.

***

“Mas, Yati nggak mau sendirian.. .”
“Yati gak punya siapa-siapa lagi kalo mas pergi.”
“Sudahlah Yati, kamu ikut Ibu aja yah?” Pinta Bu Ratmi, tetangganya.
“Kamu kan udah mau masuk SMA, kok masih kayak anak kecil begitu.”
“Tapi Yati juga pengen, ikut kesana.”
“Ikhlaskan saja. Nanti kamu belajarnya yang rajin, biar kayak Mas mu” Ucap Bu Ratmi.
“Mas mu ini kan disana kuliah Ti. Walaupun di biayain, tapi hanya cukup buat satu orang.” Ujar Suyoto sambil memasukkan barang-barang ke dalam ransel bututnya.
“4 tahun itu nggak lama, setelah itu kan mas langsung kerja. Nah kalo sudah gitu, Yati baru bisa tinggal sama mas disana.”
“Iya toh mas.. Janji ya!”
“Waaah.. Yati udah nggak sabar, pengen liat Bunga Sakura berguguran.”

Note :
# 252 Kata
# Tema : Lagu Natasha Bedingfield – Unwritten
# Lampu Bohlam #4 – Terbang

Berani Cerita #03 Kado buat Lisa

Entah sudah berapa kali Lisa merengek, minta diantar Nenek nya kesini. Karena selalu saja ingin berada di bilik itu. Dan entah sudah berapa kali Lisa main bersama Papa nya di sana.

“Pa, baju ini buat Lisa ya?”
“Iya sayang, ini kado ulang tahun buat Lisa.”
“Bener Pa?!”
“Iya sayang, Lisa suka yang mana?”
“Lisa mau yang warna hitam aja Pa.”
“Kok yang hitam? Biasanya kan Lisa suka yang warna pink.”
“Iya, tapi kali ini Lisa mau yang warna hitam, biar selalu ingat kalo baju ini hadiah dari Papa.”
Lisa memandang dirinya di cermin, “Bagus gak Pa?”
“Iya, anak Papa cantik yah.”
“Papa kemana aja sih, kok sekarang jarang pulang?”
“Papa lagi banyak kerjaan sayang.”
“Lisa sayang deh sama Papa, soalnya kalo Papa pulang, Papa selalu nemenin Lisa main disini.”
“Papa juga sayang sama Lisa.”

***

“Pulang yuk!”
Linda mengetuk pintu ruangan itu setelah menutup buku stok penjualan hari ini. “Mama udah nutup toko nya sayang!”
“Iya, Ma!” Lisa segera membereskan mainannya.
“Kita pulang yuk Pa.”
Lisa menggandeng tangan Papa nya dan melangkah keluar.

“Ma, Lisa dapet kado ulang tahun dari Papa!” sambil menunjukkan gaun hitam yang di kenakannya, ketika mengantar jenazah Papa nya ke Taman Pemakaman Umum.

 

Berani Cerita #03 Cinta oh Cinta

“Alamak! rambutku.”
Susi membenahi helaian rambutnya yang mencuat kesana kemari.
“Sudah berapa kali kubilang, berhentilah mengharapkan lelaki itu. Akhirnya kau sendiri yang patah hati. Sedang dia, malah enak-enakan di pelukan istrinya. Ya sudahlah, aku pergi dulu.”
Susi keluar tergesa-gesa, karena pacarnya menggedor pintu berulang kali.

Dan sekarang, aku bersembunyi untuk menghindari tatapan mata David, ketika secara tak sengaja kami bertemu di depan kasir yang ada di sebelah. Aku mendadak salah tingkah, rindu bercampur marah, ingin rasanya aku memeluknya saat itu juga. Tapi yang terjadi, malah ucapan selamat menempuh hidup baru yang meluncur dari bibirku.

Kulihat istrinya tersenyum manis padaku. Sedangkan David, tak henti-hentinya dia menatapku. Raut wajahnya terlihat muram, hingga salah tingkah ku pun semakin menjadi-jadi. Dengan sigap, ku ambil lingerie yang tergantung dibawah tulisan diskon 50%, dan langsung masuk kesini bersama Susi.

***

Selama menunggu, kucoba lingerie yang sangat menerawang itu. Lalu tiba-tiba, “Ran.. .”
“Astaga!, pintunya tidak terkunci.”
“David! ngapain kamu kesini?!”
“Aku cuma pengen ngomong.. Aku minta maaf kalo banyak salah sama kamu.. .”
“Hanya karena kita ternyata berbeda, kamu menghilang tanpa jejak Ran.. .”
“Tapi.. .”
Aku terdiam, rasa kecewa yang dalam tak bisa membuatku berkata-kata lagi.
“Aku ingin kita seperti dulu, bersama dalam suka dan duka dan saling menerima apa adanya.” Ujar David setengah memaksa.

Tiba-tiba saja Istri David sudah berdiri dibelakang kami.
“Maafkanlah dia, aku tau kalian sudah akrab sejak kecil.. kembalilah seperti kalian yang dulu.”

Sejenak matanya menelusuri tubuhku, senyumnya terlihat miris namun dia tetap meraih tanganku. Aku sempat bingung dengan pernyataannya, tapi sekilas kulihat bayangan diriku yang terpantul di dalam cermin.
Lingerie hitam seksi itu masih melekat di tubuhku, ketika David memelukku erat agar mau memaafkannya.
“Entahlah, saat ini aku sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa dulu.” Jawabku sambil berusaha menutupi pakaian yang sedang kukenakan.
“Baiklah, tidak usah terburu-buru.. Aku selalu menunggumu untuk memaafkanku.”

Akhirnya mereka pergi, meninggalkan kebimbangan dalam hatiku. Ah, sebenarnya aku ingin langsung mengatakan kepada David saat itu juga. Bahwa aku bisa memaafkannya, dan akan kucoba lagi menjalin persahabatan seperti dulu.

Maka kuputuskan untuk menyusulnya. Buru-buru kukenakan baju dan celana, lalu keluar untuk meletakkan lingerie itu ke tempatnya semula.

Tak sengaja, aku menabrak salah seorang Pramuniaga yang sedang berdiri di depan pintu. Langsung saja aku minta maaf. Lalu dengan sopan, tangannya meminta lingerie yang masih tersampir di lenganku.

“Maaf Mas, lingerie nya tidak boleh di coba ya.”