Berani Cerita # 06 : Ibu

ibu

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

“Liana! ternyata kamu disini?!”

“Iya! memangnya kenapa?! Ini kan rumah Eyangku, ngapain juga kamu kesini!” begitu melihat yang datang ternyata adik tirinya, Liana langsung menjawab dengan ketus dan bermuka masam.

“Saya ingin menjenguk Eyang, dimana kamarnya?”

“Cari saja sendiri!” Rino langsung nyelonong, clingak clinguk mencari kamar Eyangnya. Dia tak tau mengapa kakak tirinya yang telah menghilang selama lima tahun itu begitu membencinya, padahal Rino dan ibunya sudah menerima Liana apa adanya.

***

“Ini Rino datang Eyang…” Rino mencium tangan Eyangnya, lalu duduk bersandar disamping ranjang. Liana berjalan pelan lalu ikut mencuri dengar dibalik pintu.

“Karena kalian sudah dewasa. Ada yang ingin Eyang beritahukan kepada kalian, Eyang pikir waktu Eyang sudah tidak lama lagi…”

“Eyang sering dengar dari Ayahmu, kalian tidak akur. Terlebih lagi Liana begitu memusuhimu. Eyang mengerti dengan keadaan kalian, tapi ada yang kalian tidak tau.”

Airmatanya perlahan jatuh. “Dulu Ayahmu pernah berselingkuh dan menghamili wanita lain Rino. Tapi wanita itu nekat mengakhiri hidupnya, karena ayahmu meninggalkannya untuk kembali pada Ibumu lagi.” Rino terdiam lalu menyeka air mata Eyangnya.

“Lalu, Ibumu memutuskan untuk menerima dan membesarkan anak selingkuhan ayahmu yang pada saat itu sudah berusia 3 tahun, baru kemudian kamu lahir Rino. Eyang tau, ibumu selalu berusaha ikhlas untuk menerima Liana. Hingga sekalipun dia tidak pernah menceritakan hal itu kepada kalian, sampai akhir hayatnya lima tahun yang lalu.”

Liana terkesiap, terdiam mematung. Lima tahun silam, dia pernah mendengar bahwa Ayahnya tega meninggalkan ibu dan dirinya demi Ibu Rino,  tapi ternyata “Aku..” Suara Liana tercekat. Aku.. Aku ini anak haram!” tangisnya pecah. 

“Masuklah Liana, Eyang tau kamu di luar.” Liana tak berani masuk, wajahnya berurai air mata. Dadanya sesak, dipenuhi rasa berdosa.

“Aku bersalah…” Liana menangis sesunggukkan. “Maafkan aku sudah meracunimu, bu..”

banner-BC#06Note : # 313 Kata

Prompt # 8 : Kendi Ajaib

kendi

“Hei! Maliiiiiing!” 

Seorang wanita muda, menunjuk laki-laki yang berlari terseok-seok ke arah Pak Pardi yang sudah siap siaga memasang kuda-kuda di balik tembok.

“Ciaaat!!!” 
 

“Gedebuk! Si Maling terjungkal. Pak Pardi meraihnya, lalu mengunci pergelangan tangan dan menjambak rambutnya. “Nyuri apa kamu?!”

“Ampun Pak ampuuuun..! Saya cuma meminjam Kendi ini. Kalau sudah selesai, nanti akan saya kembalikan.”

Wanita muda itu datang terengah-engah untuk memastikan. “Iya bener, ini Malingnya Pak!”

Pak Pardi menarik paksa Si Maling. “Ikut saya!”

***

Pak Pardi menyodorkan sebuah kursi. “Duduk!”

“Apa maksudmu dengan meminjam Kendi ini?!”

“Eh! Begini Pak… Saya dengar, orang-orang di kampung selalu membawa segepok uang, setelah keluar dari sini. Lalu saya pun bertanya, bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu dengan mudah. Temanku bilang, uang-uang itu berasal dari Kendi Ajaib dan saya harus memberikan salah satu barang berharga sebagai persyaratannya.” Dia menghela nafas. “Tapi sayang, saya tidak punya barang berharga satu pun Pak.”

“Kamu jangan mengada-ngada, jawab dengan jujur?!”

“Benar Pak.. Tetangga saya yang seorang dukun, menyarankan saya membawa Kendi itu untuk di jampi-jampi, agar bisa melewatkan persyaratannya. Karena Ibu harus segera di bawa ke dokter, jadi saya nekat untuk mengambilnya Pak,” ucapnya memelas.

“Hahaha…hahaha…hahaha…” Pak Pardi tertawa kencang.

“Kebetulan sekali! Baik, akan kukabulkan permintaanmu. Kamu akan mendapatkan uang segepok. Tapi sebelum itu, kamu harus membantu dan melaksanakan semua perintahku!”

“Hahaha…hahaha…!” Pak Pardi tertawa lagi, tapi kali ini terdengar seperti tawa Jin Mustapha di telinga Si Maling.

Si Maling sempat ketakutan, tapi “Siap, Pak Jin!” Reaksinya berubah penuh semangat. Lalu mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Sebenarnya Pak Pardi merasa iba. Karena postur Si Maling, yang belum lulus SD dan masih lugu itu mengingatkannya dengan Si Kurdi, anak lelakinya yang sama-sama berkaki pincang.

“Baiklah,” lanjut Pak Pardi. “Mulai hari ini, Aku perintahkan kamu untuk mengepel dan membersihkan ruangan yang ada di sini. Sebulan sekali, kamu harus memotong rumput yang ada di halaman kantor,” ujar Si Satpam Senior itu, sambil mengelap Maskot Kantor Pegadaian yang masih ada di tangannya.
Note : # 323 Kata

Prompt # 7 : The Postcard

Lelaki itu datang. Walau hanya sekilas pandang, mataku tak bisa lepas meliriknya. Dadaku dag dig dug, tapi otakku harus konsisten dengan pekerjaanku.

Tina mencolekku “Mey, cowok ganteng yang waktu itu tuh.” Lelaki itu melihat nomor antrian dan berjalan ke arahku. Tapi Tina langsung pasang badan dan mempersilahkan lelaki itu ke counter nya.

“Yah sudah ambil saja, masih banyak lelaki lain kok,” bathinku.

“Hei, kerja yang benar!” tegur manajer kami.

Lelaki itu berpindah arah dan menyapaku. “Permisi Nona.” Senyumnya terlihat manis dimataku.

“Anda mengirim kartu pos lagi hari ini,” komentarku. “Wah, cantik sekali.” “Apa ada yang lain?”

“Tidak,” jawabnya setengah grogi.

“Semuanya 220 Won.” Lalu dia membayar dan langsung pergi tanpa berkata apa-apa.

 “Matamu, Rambutmu, Senyummu dan Seragammu
 mempesona mataku”


Dadaku terhenyak, begitu menyadari alamat yang dituju. “Kok sama dengan alamat kontrakannya Daniel yah, tapi kenapa tidak ada nama dan alamat pengirim?”

“Jangan-jangan lelaki itu…” Aku memutar otak. Ah, tidak mungkin sahabat karibku yang ganteng itu mau. Tapi entahlah, aku sempat memergoki mereka beberapa kali bertemu pandang dan saling memberi isyarat. Pikiranku jadi ragu bercampur cemburu.

***

“Mey, sendirian aja pulangnya ?” Daniel menghampiriku.

“Eh, iya.”

“Mey, kita duduk di ruang tunggu sebentar yuk, ada yang mau aku ceritakan.”

“Okey, baiklah.”

Daniel menyandarkan punggungnya di kursi, lalu memangku helmnya. “Hmm.. begini Mey.”

“Apa Dan?”

“Besok aku akan menemui wanita itu.”

“Wanita yang mana?”

“Wanita yang selalu mengirimiku kartu pos, lewat kakaknya itu Mey.”

“Oh, ternyataa…” Hatiku lega. “Untuk apa?”

“Untuk memintanya berhenti mengirimiku Kartu Pos lagi.”

“Kenapa Dan?”

“Ng…” Daniel sempat ragu untuk menjawab. “Aku tidak mau kamu melihat kartu pos – kartu pos itu.”

“Loh, maaf klo begitu, aku tidak akan melakukannya lagi!” Aku langsung bangkit.

“Aku mau kamu, yang mengirim kartu pos – kartu pos seperti itu. Untukku Mey.”

“Hah…”

Prompt #7 Ramli & Julaiha

“Masuk ke kamar!” Julaiha kaget. “Papa bilang masuk!”
“Tapi Pa.. .”

Julaiha bingung, apa yang membuat Papanya tidak merestui hubungan mereka, padahal Julaiha sudah cinta mati dengan Ramli.

“Kamu sudah kuperingatkan, jangan temui Julaiha lagi. Kamu itu tidak pantas bersanding dengan anakku!” Ramli hanya tertunduk.
“Om..” Ramli akhirnya bersuara “Kami saling mencintai, Om.”
“Maaf saja, aku tidak sudi. Secuil restu pun tidak akan pernah kuberikan!” “Pergi sana, jangan pernah kembali kesini!”.

Ramli pulang dengan rasa kecewa. Kata-kata Papa Julaiha begitu kasar di telinga nya dan membuatnya merasa tidak berharga sama sekali, padahal dia adalah salah satu anak orang terkaya di kota ini. Orangtua nya adalah rekan bisnis yang paling di percaya oleh Papa Julaiha. Dan seingatnya, sampai hari ini mereka tidak pernah sekalipun bermusuhan.

Akhirnya Ramli memutuskan, agar Orangtua nya saja yang melamar Julaiha minggu depan.

***

“Bagaimana menurut Kalian?”
“Kamu cari orang lain saja Ramli, jangan Julaiha.” Ujar Mamanya.
“Loh kenapa Ma?!” “Aku bisa memberikan apapun yang Julaiha inginkan. Mengapa kalian tidak mau merestui?!” Ramli sangat kecewa mendengar keputusan orang tuanya.
“Sebenarnya, Julaiha sudah di jodohkan.”
“Dengan siapa Ma?!”
“Kakakmu.” Papa Ramli menengahi.
“Apa!!!” Matanya terbelalak, marah sekaligus kaget. “Ramlan maksud Papa?!”
“Iya, dan dia bersedia” lanjut Papa nya. “Sudahlah Ramli, Jangan begitu. Lagipula kasihan Julaiha.”
“Ramlaaaan!!” Ramli mengepalkan tinjunya. Telinga Ramlan tiba-tiba saja gatal ketika tengah memimpin rapat bersama para pemegang saham.

***

“Selamat ya!” Para undangan gegap gempita untuk mengantri, demi mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada Ramlan dan Julaiha.

Wajah Julaiha seperti langit berselimut mendung yang akan segera turun hujan.

Lalu Ramli datang, dan tiba-tiba seberkas senyum tersungging di bibir Julaiha, Tapi..

“Pa, Tante Julaiha cantik ya pake baju adat Minangkabau.” Ujar seorang anak kecil yang di gandeng Ramli.
“Iya.. .” Ramli tertunduk.
“Ma, beliin baju kayak tante Julaiha dong.” Ucapnya lagi.
“Iya, nanti ya.. .” Ujar wanita disebelahnya.

“Ternyata Papa tidak berbohong.. .” Batin Julaiha.

Berani Cerita # 04 Flying without Wings

“Yoto!!” “Kamu sudah bapak peringatkan berkali-kali yah!”
“Ke ruang BP, sekarang!”
“Eh! Ya Pak.”

Di luar kelas, Suyoto berpas-pasan dengan Ibu Yeli. “Ketiduran lagi To?!”
“Iya.” “kok tau Bu?”
“Itu, bekas ilermu masih ada.”
“Kamu ini, gak malu apa sama temen-temenmu?”
“Tampangmu kayak orang nggak pernah mandi, seperti nggak punya semangat hidup saja. Makanya, gak ada yang mau bergaul sama kamu..”
“Sekolah itu pake uang To. Jangan mentang-mentang pinter, lalu bisa seenaknya.. .”

Suyoto yang pendiam hanya bisa mengangguk mendengar omelan wali kelasnya.

***

Prak!! Ratusan batu bata melungsur dari atas gedung.

“Masya Allah!” Suyoto terperangah. “Untung nggak ada orang dibawah.”
“Gimana sih lu To!” “Ngomong dong kalo nggak mau kerja lagi!”
“Maaf Bang, tali pengamannya lepas!” Yoto terpaku. “Ntar potong dari upah ku aja Bang?!”

Ucapan Wali Kelasnya tadi pagi, membuyarkan konsentrasi Suyoto malam ini.

***

“Mas, Yati nggak mau sendirian.. .”
“Yati gak punya siapa-siapa lagi kalo mas pergi.”
“Sudahlah Yati, kamu ikut Ibu aja yah?” Pinta Bu Ratmi, tetangganya.
“Kamu kan udah mau masuk SMA, kok masih kayak anak kecil begitu.”
“Tapi Yati juga pengen, ikut kesana.”
“Ikhlaskan saja. Nanti kamu belajarnya yang rajin, biar kayak Mas mu” Ucap Bu Ratmi.
“Mas mu ini kan disana kuliah Ti. Walaupun di biayain, tapi hanya cukup buat satu orang.” Ujar Suyoto sambil memasukkan barang-barang ke dalam ransel bututnya.
“4 tahun itu nggak lama, setelah itu kan mas langsung kerja. Nah kalo sudah gitu, Yati baru bisa tinggal sama mas disana.”
“Iya toh mas.. Janji ya!”
“Waaah.. Yati udah nggak sabar, pengen liat Bunga Sakura berguguran.”

Note :
# 252 Kata
# Tema : Lagu Natasha Bedingfield – Unwritten
# Lampu Bohlam #4 – Terbang

Prompt # 6 : Good Bye

Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, “Saya sudah mencari anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat facebook anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya.” Tapi suara Noura hilang di tengah riuhnya mesin-mesin yang menderu, dari dalam pabrik itu.

Esoknya, Noura mengendap-ngendap disamping rumah Tuan Black.
“Hei, siapa disitu!”.
Noura pun keluar dari persembunyiannya.
“Marry, kaukah itu!”
“Ah, tidak mungkin,” bisiknya.
Tuan Black bergegas mendekati Noura.
“Siapa kau? Kenapa masuk kesini tanpa ijin!”
“Saya Noura, apakah Anda mengenali wajah saya?!”

***

“Apa kamu sudah menemukannya?” “Sudah Bu,” tegas Noura.
“Sudah berpuluh tahun yang lalu, masihkah dia ingat padaku?” batin Marry.
Matanya menerawang jauh. Tubuhnya terbaring lemah, setelah 3 hari tersadar dari koma karena penyakitnya.“
Sejak kejadian itu, Aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.. ,” kenang Marry. Perlahan air matanya bergulir membasahi pipi nya yang tirus.

***

“Marry!”
“Morgan.. aku tidak bermimpi kan?”
“Tidak Marry.. sudah sekian lama aku mencarimu, maafkan aku.” Tuan Black menangis sesunggukkan.
“Aku di bius, ketika tragedi pembantaian keluarga kita itu terjadi.. .”
“Waktu siuman ternyata aku sudah berada di Belanda. Mereka menjualku Morgan.. .” Marry terisak.
“Maafkan aku tidak mampu menjagamu.. saat itu kita terlalu muda.. .”
Morgan memeluk Marry dan menangis bersama.
Marry tersenyum melihat Noura. “Kesini nak.” Noura mendekati Ibunya.
“Ini Noura, jagalah dia baik-baik.. .”

kemudian Marry tak bergerak lagi, terbujur kaku di ranjang ICU.

“Dari lahir kita bersama, seharusnya di alam sana pun kita bersama.. .” Tangis Tuan Black pecah, menyesali kepergian saudara kembarnya sekali lagi.

 



Credit

Note : 
# 261 Kata

Berani Cerita #03 Kado buat Lisa

Entah sudah berapa kali Lisa merengek, minta diantar Nenek nya kesini. Karena selalu saja ingin berada di bilik itu. Dan entah sudah berapa kali Lisa main bersama Papa nya di sana.

“Pa, baju ini buat Lisa ya?”
“Iya sayang, ini kado ulang tahun buat Lisa.”
“Bener Pa?!”
“Iya sayang, Lisa suka yang mana?”
“Lisa mau yang warna hitam aja Pa.”
“Kok yang hitam? Biasanya kan Lisa suka yang warna pink.”
“Iya, tapi kali ini Lisa mau yang warna hitam, biar selalu ingat kalo baju ini hadiah dari Papa.”
Lisa memandang dirinya di cermin, “Bagus gak Pa?”
“Iya, anak Papa cantik yah.”
“Papa kemana aja sih, kok sekarang jarang pulang?”
“Papa lagi banyak kerjaan sayang.”
“Lisa sayang deh sama Papa, soalnya kalo Papa pulang, Papa selalu nemenin Lisa main disini.”
“Papa juga sayang sama Lisa.”

***

“Pulang yuk!”
Linda mengetuk pintu ruangan itu setelah menutup buku stok penjualan hari ini. “Mama udah nutup toko nya sayang!”
“Iya, Ma!” Lisa segera membereskan mainannya.
“Kita pulang yuk Pa.”
Lisa menggandeng tangan Papa nya dan melangkah keluar.

“Ma, Lisa dapet kado ulang tahun dari Papa!” sambil menunjukkan gaun hitam yang di kenakannya, ketika mengantar jenazah Papa nya ke Taman Pemakaman Umum.

 

Berani Cerita #03 Cinta oh Cinta

“Alamak! rambutku.”
Susi membenahi helaian rambutnya yang mencuat kesana kemari.
“Sudah berapa kali kubilang, berhentilah mengharapkan lelaki itu. Akhirnya kau sendiri yang patah hati. Sedang dia, malah enak-enakan di pelukan istrinya. Ya sudahlah, aku pergi dulu.”
Susi keluar tergesa-gesa, karena pacarnya menggedor pintu berulang kali.

Dan sekarang, aku bersembunyi untuk menghindari tatapan mata David, ketika secara tak sengaja kami bertemu di depan kasir yang ada di sebelah. Aku mendadak salah tingkah, rindu bercampur marah, ingin rasanya aku memeluknya saat itu juga. Tapi yang terjadi, malah ucapan selamat menempuh hidup baru yang meluncur dari bibirku.

Kulihat istrinya tersenyum manis padaku. Sedangkan David, tak henti-hentinya dia menatapku. Raut wajahnya terlihat muram, hingga salah tingkah ku pun semakin menjadi-jadi. Dengan sigap, ku ambil lingerie yang tergantung dibawah tulisan diskon 50%, dan langsung masuk kesini bersama Susi.

***

Selama menunggu, kucoba lingerie yang sangat menerawang itu. Lalu tiba-tiba, “Ran.. .”
“Astaga!, pintunya tidak terkunci.”
“David! ngapain kamu kesini?!”
“Aku cuma pengen ngomong.. Aku minta maaf kalo banyak salah sama kamu.. .”
“Hanya karena kita ternyata berbeda, kamu menghilang tanpa jejak Ran.. .”
“Tapi.. .”
Aku terdiam, rasa kecewa yang dalam tak bisa membuatku berkata-kata lagi.
“Aku ingin kita seperti dulu, bersama dalam suka dan duka dan saling menerima apa adanya.” Ujar David setengah memaksa.

Tiba-tiba saja Istri David sudah berdiri dibelakang kami.
“Maafkanlah dia, aku tau kalian sudah akrab sejak kecil.. kembalilah seperti kalian yang dulu.”

Sejenak matanya menelusuri tubuhku, senyumnya terlihat miris namun dia tetap meraih tanganku. Aku sempat bingung dengan pernyataannya, tapi sekilas kulihat bayangan diriku yang terpantul di dalam cermin.
Lingerie hitam seksi itu masih melekat di tubuhku, ketika David memelukku erat agar mau memaafkannya.
“Entahlah, saat ini aku sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa dulu.” Jawabku sambil berusaha menutupi pakaian yang sedang kukenakan.
“Baiklah, tidak usah terburu-buru.. Aku selalu menunggumu untuk memaafkanku.”

Akhirnya mereka pergi, meninggalkan kebimbangan dalam hatiku. Ah, sebenarnya aku ingin langsung mengatakan kepada David saat itu juga. Bahwa aku bisa memaafkannya, dan akan kucoba lagi menjalin persahabatan seperti dulu.

Maka kuputuskan untuk menyusulnya. Buru-buru kukenakan baju dan celana, lalu keluar untuk meletakkan lingerie itu ke tempatnya semula.

Tak sengaja, aku menabrak salah seorang Pramuniaga yang sedang berdiri di depan pintu. Langsung saja aku minta maaf. Lalu dengan sopan, tangannya meminta lingerie yang masih tersampir di lenganku.

“Maaf Mas, lingerie nya tidak boleh di coba ya.”