Prompt #9: Parfum Mahal

botol parfum

Grafik data perusahaan itu diletakkannya di atas meja. “Kita bangkrut-sebangkrutnya, Mi,” Roland menghela nafas kemudian melonggarkan dasinya.

“Yang bener, Pi?!” Laras tercengang dan kelihatan sangat kecewa. Dahinya berkerut dan berkeringat dingin. “Gimana ini ya, Pi.. Mami kan pengen ikut arisan yang 20 juta perbulan bersama ibu-ibu pejabat itu.”

“Kan bisa dibatalin, Mi, Kondisi kita udah gak memungkinkan lagi untuk hal seperti itu!”

“Nggak ah, Pi! Tengsin dong, Mami!”

“Trus, mau nyari uang 20 juta perbulan itu ke mana? Rumah kita yang di BSD aja udah disita!”

“Mami buka bisnis parfum aja deh, Pi. Kalo sering bergaul sama istri pejabat, pangsa pasarnya kan lumayan.”

“Ya udah. Kalo Mami punya modal sendiri, Papi sih nurut aja.”

***

“Hei Jeng, kemana aja, udah lama nggak keliatan?”

“Eh Jeng Anna, nggak ke mana-mana kok cuma lagi ngurus bisnis baru aja.”

“Bisnis apa Jeng? Suami udah kaya kok istrinya masih kerja aja toh…”

“Alah Jeng, daripada shopping melulu ngabisin uang suami, mending uangnya dijadiin modal bisnis, kan hasilnya malah jadi berkali lipat,” Laras tersenyum miris, berharap teman-temannya yang hadir di acara arisan itu tidak ada yang tahu tentang kebangkrutan suaminya.

“Jeng-Jeng sekalian, ada barang limited edition dari luar negeri nih! Baru saya pake sekali, lho!” seru Laras.

“Barang apa, Jeng? Oh, parfum yah!”

“Iya nih Jeng, ada 3 buah, dari Paris. The Lalique, Clive Christian’s sama Caron’s Poivre dan semuanya bersertifikat. Saya ini kan orangnya bosenan, jadi kalo ada yang baru pasti yang lama terlupakan. Sayang kan, mending buat kalian-kalian aja.”

“Aduh Jeng, ada The Lalique yah! Ini kan parfum yang dipake Si Jelo itu. Waktu itu saya nyari tapi udah nggak ada lagi,” ucap Jeng Anna.

“Eh tau nggak Jeng, saya dengar harganya itu 25 juta loh,” ujar temannya menimpali.

“Nggak pa-pa lah Jeng, sekali-sekali ini. Kapan lagi bisa dapet parfum mewah dengan harga miring. Mas Adam dijamin bakalan lengket terus deh sama Jeng Anna. Kalo mau, ntar saya kasih diskon 15 persen khusus buat Jeng Anna,” bujuk Laras. “Gimana, mau yah? Ntar kalo yang lain berminat langsung tak lepas loh…”

Jeng Anna mengamati botol cantik yang terbuat dari kristal lalique itu dengan seksama, beberapa biji permata berwarna bening, tertanam di badan botol. Dia membuka tutupnya dan mengendus aroma yang melekat, lalu menyemprotkan sedikit ke pergelangan tangan.

“Unik, yah! Aromanya juga eksotis,” ujarnya. “Hmm.. Baiklah, ntar saya transfer uangnya setelah pulang dari sini yah.”

“Kalo punya suami konglomerat, uang segitu mah pasti nggak seberapa. Ya nggak, Jeng Anna?”

“Ah, Jeng Laras tau aja.”

Laras tersenyum puas.

“Besok aku harus nyetok pengharum ruangan dan menambahkan pelicin pakaian lebih banyak lagi. Sepertinya, masih ada botol parfum kosong di rumah.”

botol

Note : Lampu Bohlam # 06 : Harga Diri

Lampu Bohlam #5 Pulang

Jam 05.30 Pagi, ku ambil sepeda mini yang tersandar di belakang pintu.

“Mak, mo nitip beli sarapan gak?”
“Beli Gorengan aja di deket pasar yah.”
“Oke Mak.. .” Ku acungkan jempol tanda setuju.

Ku hirup udara pagi sambil mengayuh sepeda, sesekali meluncur tanpa memegang kemudi, wuiiih asyiknya meluncur dari tempat yang tinggi. Lalu aku akan berkeliling mencari tempat baru, tempat yang bisa membuatku merasa seperti berada di alam bebas, bisa memanjat pohon, menangkap capung, berlarian atau tiduran di atas rumput. Kalau beruntung aku bisa menemukan anak sungai tempat aku bisa bermain air, atau menangkap ikan-ikan kecil dan ku bawa pulang. Setelah puas, aku akan mampir ke depan pasar. Dengan setia aku akan menunggu si pemilik warung menggelar dagangannya, melihatnya meracik bumbu dan menjejerkan makanan yang akan dijual, lalu menunggu lagi hingga pesanan ibuku selesai di masak. Lama memang, tapi aku akan menikmati setiap detik prosesnya. Aku ingin belajar, apapun itu meski hanya sekedar memasak makanan kecil.

***

Jam 05.00 Pagi, di Bulan Ramadhan. Aku selalu ingin Solat Subuh ke masjid walopun sering di larang oleh Orangtuaku. Entah, aku juga tak tau mengapa. Sehabis subuh, aku berkumpul bersama teman-teman kecilku, bermain monopoli atau ular tangga hingga matahari terbit. Tapi seringkali yang terjadi, berhari-hari aku hanya sendirian. Duduk di halaman menghayal hingga pagi, atau mencari sesuatu yang bisa dilakukan. Entah itu menggambar, menulis kaligrafi ato membaca buku. Kalaupun ingin menghabiskan subuh di rumah, aku hanya menonton acara jejak rasul. Aku tak tau apa yang membuatku begitu terpesona, dengan acara yang menceritakan lokasi dan sejarah-sejarah Nabi. Hingga membuatku pernah bermimpi untuk kesana sebelum menambahkan Jepang dan Eropa sebagai tempat petualangan berikutnya. *tentu saja sampai hari ini, itu semua masih hanya mimpi* :D.

Itulah sekilas masa kecilku..
dan rasanya, aku ingin Pulang ke Masa Lalu.

Note : Lampu Bohlam #5 Pulang