Prompt #7 Ramli & Julaiha

“Masuk ke kamar!” Julaiha kaget. “Papa bilang masuk!”
“Tapi Pa.. .”

Julaiha bingung, apa yang membuat Papanya tidak merestui hubungan mereka, padahal Julaiha sudah cinta mati dengan Ramli.

“Kamu sudah kuperingatkan, jangan temui Julaiha lagi. Kamu itu tidak pantas bersanding dengan anakku!” Ramli hanya tertunduk.
“Om..” Ramli akhirnya bersuara “Kami saling mencintai, Om.”
“Maaf saja, aku tidak sudi. Secuil restu pun tidak akan pernah kuberikan!” “Pergi sana, jangan pernah kembali kesini!”.

Ramli pulang dengan rasa kecewa. Kata-kata Papa Julaiha begitu kasar di telinga nya dan membuatnya merasa tidak berharga sama sekali, padahal dia adalah salah satu anak orang terkaya di kota ini. Orangtua nya adalah rekan bisnis yang paling di percaya oleh Papa Julaiha. Dan seingatnya, sampai hari ini mereka tidak pernah sekalipun bermusuhan.

Akhirnya Ramli memutuskan, agar Orangtua nya saja yang melamar Julaiha minggu depan.

***

“Bagaimana menurut Kalian?”
“Kamu cari orang lain saja Ramli, jangan Julaiha.” Ujar Mamanya.
“Loh kenapa Ma?!” “Aku bisa memberikan apapun yang Julaiha inginkan. Mengapa kalian tidak mau merestui?!” Ramli sangat kecewa mendengar keputusan orang tuanya.
“Sebenarnya, Julaiha sudah di jodohkan.”
“Dengan siapa Ma?!”
“Kakakmu.” Papa Ramli menengahi.
“Apa!!!” Matanya terbelalak, marah sekaligus kaget. “Ramlan maksud Papa?!”
“Iya, dan dia bersedia” lanjut Papa nya. “Sudahlah Ramli, Jangan begitu. Lagipula kasihan Julaiha.”
“Ramlaaaan!!” Ramli mengepalkan tinjunya. Telinga Ramlan tiba-tiba saja gatal ketika tengah memimpin rapat bersama para pemegang saham.

***

“Selamat ya!” Para undangan gegap gempita untuk mengantri, demi mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada Ramlan dan Julaiha.

Wajah Julaiha seperti langit berselimut mendung yang akan segera turun hujan.

Lalu Ramli datang, dan tiba-tiba seberkas senyum tersungging di bibir Julaiha, Tapi..

“Pa, Tante Julaiha cantik ya pake baju adat Minangkabau.” Ujar seorang anak kecil yang di gandeng Ramli.
“Iya.. .” Ramli tertunduk.
“Ma, beliin baju kayak tante Julaiha dong.” Ucapnya lagi.
“Iya, nanti ya.. .” Ujar wanita disebelahnya.

“Ternyata Papa tidak berbohong.. .” Batin Julaiha.

Prompt # 6 : Good Bye

Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, “Saya sudah mencari anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat facebook anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya.” Tapi suara Noura hilang di tengah riuhnya mesin-mesin yang menderu, dari dalam pabrik itu.

Esoknya, Noura mengendap-ngendap disamping rumah Tuan Black.
“Hei, siapa disitu!”.
Noura pun keluar dari persembunyiannya.
“Marry, kaukah itu!”
“Ah, tidak mungkin,” bisiknya.
Tuan Black bergegas mendekati Noura.
“Siapa kau? Kenapa masuk kesini tanpa ijin!”
“Saya Noura, apakah Anda mengenali wajah saya?!”

***

“Apa kamu sudah menemukannya?” “Sudah Bu,” tegas Noura.
“Sudah berpuluh tahun yang lalu, masihkah dia ingat padaku?” batin Marry.
Matanya menerawang jauh. Tubuhnya terbaring lemah, setelah 3 hari tersadar dari koma karena penyakitnya.“
Sejak kejadian itu, Aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.. ,” kenang Marry. Perlahan air matanya bergulir membasahi pipi nya yang tirus.

***

“Marry!”
“Morgan.. aku tidak bermimpi kan?”
“Tidak Marry.. sudah sekian lama aku mencarimu, maafkan aku.” Tuan Black menangis sesunggukkan.
“Aku di bius, ketika tragedi pembantaian keluarga kita itu terjadi.. .”
“Waktu siuman ternyata aku sudah berada di Belanda. Mereka menjualku Morgan.. .” Marry terisak.
“Maafkan aku tidak mampu menjagamu.. saat itu kita terlalu muda.. .”
Morgan memeluk Marry dan menangis bersama.
Marry tersenyum melihat Noura. “Kesini nak.” Noura mendekati Ibunya.
“Ini Noura, jagalah dia baik-baik.. .”

kemudian Marry tak bergerak lagi, terbujur kaku di ranjang ICU.

“Dari lahir kita bersama, seharusnya di alam sana pun kita bersama.. .” Tangis Tuan Black pecah, menyesali kepergian saudara kembarnya sekali lagi.

 



Credit

Note : 
# 261 Kata