Remake Quiz Monday FlashFiction Prompt # 2 : Pandiman

Bangunan tinggi menjulang di langit hitam. Spiderman merayap. Menebar jaring dari satu titik gedung ke gedung lainnya. Bergelantungan lalu melambung semakin tinggi dan berakhir di puncak menara. Sendiri, menjauh dari hiruk pikuk dunia.

“Cletek!” Gambar TV berubah gelap. “Tidur sana! Kecil-kecil suka begadang, mau jadi apa kamu!”

“Inghya Fha’k…” Pandi masih berusaha menjawab perintah bapaknya, meski dia kesulitan bicara karena ada kelainan pada bibir atasnya.

“Ngapain aja kamu di rumah Bu!” Bapak Pandi mulai berteriak.

“Prangg!!!”

Ibu Pandi tergopoh-gopoh dari dapur, dan melihat kaca TV sudah berhamburan.

“Masya Allah! TV itu dibeli pake duit Pak! Bukan pake daun.”

“Anak cuma satu, tapi ngurusnya nggak becus!”

“Loh, Bapak itu yang seharusnya ngaca! Kerjanya keluyuran aja. Bukannya nyari duit, malah mabok-mabokan. Selama ini, kita makan dari mana kalo aku nggak bikin kue?!”

Hujan lebat dan suara halilintar terus bersahutan dengan suara Orangtuanya yang saling memaki. Untuk kesekian kali Pandi mencoba menutup telinga dengan tangan, bantal atau apapun yang bisa membuatnya tidak mendengar suara-suara itu. Tapi percuma.

Hingga akhirnya Pandi tak tahan lagi. Dia membuka lemari. Dikenakannya baju kesayangannya, lalu berjinjit lewat pintu belakang. Pandi berlari sejauh mungkin. Meski tubuh kecilnya hampir tak mampu lagi menahan dingin tapi kakinya terus melangkah, pasti.. 

***

Sekilas Info.

“Seorang anak laki-laki yang diperkirakan berusia 7 tahun, ditemukan tewas pagi ini. Tanda-tanda fisik yang masih bisa dikenali adalah bibir sumbing. Banyak bekas luka dan memar akibat pukulan benda tumpul di sekujur tubuhnya, belum diketahui penyebabnya. Dilihat dari sisa pakaian yang tidak hangus, diketahui korban memakai baju dan celana berwarna merah dan biru bergambar jaring laba-laba. Diduga korban tewas akibat terjatuh dari puncak menara karena tersambar petir.”

QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 :  Sekilas Sekitarmu

 

Note :
# Inghya Fha’k.. : Iya Pak..

Quiz Monday FlashFiction Prompt # 3: Dinda Si Pelukis Senja

Aku duduk di bibir trotoar. Sayup-sayup terdengar lagu favoritku. Aku tersenyum, suara itu telah menyihirku menjadi fans berat Satria sejak enam bulan lalu. Kepiawaiannya menyanyi tak kalah hebat dari artis-artis Jakarta. Meski Satria penyanyi cafe, tapi dia masih setia bersama teman-teman lamanya.

Dia tersenyum padaku. Tangannya mengacungkan bekas gelas air mineral, yang sudah terisi beberapa lembar uang ribuan.

Kubalas senyumnya. “Oke! Diem disitu ya?!”

Kuambil kertas gambarku, kugores sketsa dirinya dalam siluet senja dibawah lampu merah. Dan suara gitarnya perlahan mengalun, mengiringi jemariku mengukir potret kisah dirinya.

Hari-hari selanjutnya, tak kulihat lagi Satria disana. Dia pernah berkata akan pergi untuk beberapa waktu. Tapi entah kenapa, aku mulai merindunya.

Hingga suatu hari, kulihat wajahnya terpampang di selebaran. Seminggu sekali kudatangi apotek di dekat trotoar. Tak pernah kulewatkan sekalipun tanpa menonton Satria. Juga mendukungnya lewat berpuluh-puluh sms.

Mungkin sekardus nomor yang kubeli, telah menambah perolehan voting Satria. Tapi aku yakin, kemenangannya menjadi juara pertama dalam final ajang pencarian bakat malam ini, adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

“Lagu Kupu-Kupu Malam ini, adalah lagu kesukaan Dinda Si Pelukis Senja. Satria sejenak terdiam. “Apa kabarmu sekarang?”

Aku trenyuh, terpaku di depan layar kaca.

“Kabarku tetap sama, dengan Pekerjaan yang masih sama dengan lagu yang kau nyanyikan..

Yuk, ikutan QUIZ MONDAY FLASHFICTION #3 – On The Street

Quiz Monday FlashFiction Prompt # 2 : Pandiman

Bangunan tinggi menjulang di langit hitam. Spiderman merayap. Menebar jaring dari satu titik gedung ke gedung lainnya. Bergelantungan lalu melambung semakin tinggi dan berakhir di puncak menara. Sendiri, menjauh dari hiruk pikuk dunia.

“Cletek!” Gambar TV berubah gelap. “Tidur sana! Kecil-kecil suka begadang, mau jadi apa kamu!”

“Inghya Fha’k…” Pandi masih berusaha menjawab perintah bapaknya, meski dia kesulitan bicara karena ada kelainan di bibir atasnya.

“Ngapain aja kamu di rumah Bu!” Bapak Pandi mulai berteriak.

“Prangg!!!”

Ibu Pandi tergopoh-gopoh dari dapur, dan melihat kaca TV sudah berhamburan.

“Masya Allah! TV itu dibeli pake duit Pak! Bukan pake daun.”

“Anak cuma satu, tapi ngurusnya nggak becus!”

“Loh, Bapak itu yang seharusnya ngaca! Kerjanya keluyuran aja. Bukannya nyari duit, malah mabok-mabokan. Selama ini, kita makan dari mana kalo aku nggak bikin kue?!”

Hujan lebat dan suara halilintar terus bersahutan dengan suara Orangtuanya yang saling memaki. Untuk kesekian kali Pandi mencoba menutup telinga dengan tangan, bantal atau apapun yang bisa membuatnya tidak mendengar suara-suara itu. Tapi percuma.

Hingga akhirnya Pandi tak tahan lagi. Dia membuka lemari. Dikenakannya baju kesayangannya, lalu berjinjit lewat pintu belakang. Pandi berlari sejauh mungkin. Meski tubuh kecilnya hampir tak mampu lagi menahan dingin tapi kakinya terus melangkah, pasti.. 

***

Sekilas Info.

“Seorang anak laki-laki yang diperkirakan berusia 7 tahun, ditemukan tewas pagi ini. Tanda-tanda fisik yang masih bisa dikenali adalah bibir sumbing. Banyak bekas luka dan memar akibat pukulan benda tumpul di sekujur tubuhnya, belum diketahui penyebabnya. Dilihat dari sisa pakaian yang tidak hangus, diketahui korban memakai baju dan celana berwarna merah dan biru bergambar jaring laba-laba. Diduga korban tewas akibat terjatuh dari puncak menara karena tersambar petir.”

QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 :  Sekilas Sekitarmu

 

Note :
# Inghya Fha’k.. : Iya Pak..